-->
Sekali layar dikembangkan pantang mundur langkah kebelakang walaupun setapak. Ketika genderang perang telah ditabuh semua siap meradang dan berpeluh. Tatkala datang ujian bagai angin puyuh.Pantang mengerang sampai kaki melepuh dan terengkuh cita - cita

Kamis, 12 Juli 2012

ALWAFA (kesetiaan)


Suatu sifat yang dapat melahirkan atau menampakkan menjadi perbuatan seperti menepati janji, selalu bersama, mengikuti aturan yang ada, berkonsekwen dengan yang ditetapkan atau yang disepakati. Atau melaksanakan kesepakatan yang telah diputuskan. Atau dengan bahasa enaknya seperti setia kepada isteri, setia terhadap sumpah, setia terhadap aturan Allah, setia terhadap kesepakatan, setia terhadap perintah Allah.

Sifat seperti ini  (yang merupakan sifat hati) tidak lepas dari pengaturan Allah terhadapnya. Kalau sesuatu diatur  juga oleh Allah maka hal itu sesuatu yang penting. Bahkan kalau manusia tidak ada dalam hatinya sifat tersebut maka sangat berbahaya dalam meraih kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Sebab semua itu akan ada pertanggung jawabanya. Bahkan dapat mengancam keimanan seorang muslim apabila alwafa tidak ada dalam dirinya seperti ditunjukkan dalam sabda rosul sbb:
"Ada empat hal yang jika berada pada seseorang ia menjadi munafik murni dan barangsiapa terdapat satu sifat darinya maka padanya terdapat satu sifat kemunafikan sampai ia meninggalkannya; jika diberi kepercayaan ia berkhianat, jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika bertikai ia jahat." (Muttafaq Alaihi).

Dalam kasus diatas adalah bentuk-bentuk ketidak setiaan yang dapat mengancam keberadaan iman seseorang.
1. Dalil-dalil tentang alwafa (tepat janji)

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan Hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (2:40)

Israil adalah sebutan bagi nabi Ya'qub. Bani Israil adalah turunan nabi Ya'qub; sekarang terkenal dengan bangsa Yahudi. Janji Bani Israil kepada Tuhan ialah: bahwa mereka akan menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, serta beriman kepada rasul-rasul-Nya di antaranya nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana yang tersebut di dalam Taurat.

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.(2:177)

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.(5:1)

Aqad (perjanjian) mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya.

Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.(17:34)
$

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (AS-Shaf:2-3)


"Ada empat hal yang jika berada pada seseorang ia menjadi munafik murni dan barangsiapa terdapat satu sifat darinya maka padanya terdapat satu sifat kemunafikan sampai ia meninggalkannya; jika diberi kepercayaan ia berkhianat, jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika bertikai ia jahat." (Muttafaq Alaihi).


"Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat." (Muttafaq Alaihi). Ditambahkan dalam riwayat Muslim, "Kendatipun ia berpuasa, shalat, dan mengaku sebagai orang Muslim."

a. Jabir ra bercerita,

"Nabi berkata kepadaku, 'Kalau harta Bahrain datang aku akan memberimu segini, segini, dan segini." Ternyata harta Bahrain tidak pernah datang hingga beliau meninggal. Lalu ketika harta Bahrain itu datang Abu Bakar menyuruh orang untuk memanggil, 'Barangsiapa yang mempunyai piutang kepada Rasulullah hendaknya datang kepada kami niscaya aku akan membayarnya. Aku berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah berkata kepadaku begini dan begitu. Kemudian ia mengambil satu genggam untukku dan aku mennghitungnya. Ternyata ia berjumlah lima ratus. Abu Bakar berkata lagi, "Ambillah dua gini lagi." (Muttafaq Alaihi).

Allah memerintahkan sifat setia  harus ada dalam diri seorang muslim walaupun dalam hal yang mubah. Tentunya  setia dalam hal yang tidak bertentangan dengan agama dan norma  sulila manusia. Allah mengharapkan adanya keselarasan antara yang ada dalam hati dengan yang diucapkan oleh lisan. Dan adanya keselarasan perbuatan dengan apa yang pernah diucapkan. Perbuatan harus setia terhadap ucapan. Ucapan harus setia terhadap hati. Dan hati harus setia terhadap sesuatu yang diputuskan, yang disepakati, yang disumpahkan, yang dijanjikan...
Supaya manusia tidak tergelincir dalam kehinaan sebab masalah ini maka Allah menyelamatkannya dengan membuat arahan-arahanNya. Seorang prajurit muslim yang mundur dan lari dari peperangan dicap oleh Allah, sebagai orang yang menanggung dosa besar. Ia tidak dapat setia dengan apa yang sudah diputuskan oleh komandannya. Inilah salah satu kehinaan orang yang tidak setia. Dan allah akan memyelamatkan nya denganmenyuruh ia  tetap ber sabar dalam mengemban amanat agar supaya setia.
2. Sifat Positif Menepati Janji

Menepati janji merupakan:
a. Kewajiban syar’i, baik terhadap sesama muslim maupun antara muslim dan non-muslim. Contoh perjanjian antara muslim dan non-muslim di masa Rasulullah SAW adalah
1) Piagam Madinah antara umat Islam dan Yahudi
2) Perjanjian Hudhaibiyah
Termasuk di dalam masalah ini adalah menepati waktu perjanjian, sebagaimana dalam surat at-Taubah ayat 4 dan hadits Rasulullah SAW:


“Ketahuilah barangsiapa yang menzhalimi orang yang mendapat suaka atau menghinanya atau memberi beban di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaannya, maka saya adalah penuntutnya di hari kiamat” (HR Abu Dawud)

 
b. Akhlak yang utama (فضائل الأخلاق)
c. Ciri tingginya peradaban (روائع الظواهر الحضارية)
d. Sifat-sifat Mu’min dan Ulul-albab (صفات المؤمن وأولى الألباب)
e. Merupakan jenis kebajikan (البر)
f. Merupakan akhlak imaniyah (الأخلاق الإيمانية)
g. Akhlak para Nabi dan Rasul (أخلاق الأنبياء والمرسلين)
à Nabi Ismail (19:54-55):

Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan nabi.
Sifat menepati janji ini menurun ke Bangsa Arab.
h. Seruan agama yang Robbani (دعوة دين الربانى)
3. Kisah-kisah Tepat Janji

a. Menepati janji dalam membayar hutang

Rasulullah berkisah: Ada seorang Bani Israil (A) yang meminjam 1000 dinar kepada salah seorang dari Bani Israil (B).
Si B meminta A untuk mendatangkan saksi. Si A berkata : Cukuplah Allah sebagai saksi. Si B meminta ditunjukkan kafil (penjamin). Si A menjawab cukuplah Allah sebagai penjamin.
Si B percaya dan ia berikan 1000 dinar itu, sesuai dengan batas waktu yang disepakati bersama.
Lalu si A pulang ke kampungnya di seberang sana. Ia kumpulkan uang hingga cukup jumlahnya samapai batas waktu pembayarannya.
Ketika jatuh tempo itulah si A mencari kapal penyebrangan untuk membayar hutangnya. Tetapi tidak ada kapal penyebrangan hari itu.
Akhirnya si A mengambil sebatang kayu, ia lubangai kayu itu dania masukkan 1000 dinar pinjamannya itu disertai pesan kepada saudaranya di seberang. Ia ceburkan kayu itu ke laut, disertai doa:
”Ya Allah Engkau Yang Maha Mengetahui, bahwa saya pernah berhutang 1000 dinar kepada seseorang, ketika ia meminta jaminan, saya katakan : “Cukuplah Allah sebagai penjamin” dan ia menerima. Ketika ia meminta saksi, saya katakan : “Cukuplah Allah sebagai saksi” dan iapun menerima. Dan sekarang saya sudah berusaha mencari penyebrangan untuk membayarkannya, tetapi saya tidak menemukannya, maka sekarang saya titipkan ini kepadamu Ya Allah”.
Setelah itu ia pergi sambil mencari kapal yang bisa menyeberangkannya.
Si B yang dijanjikan dibayar pada hari itupun keluar ke pantai menunggu kapal yang datang, menjemnput Si A yang meminjam uang kepadanya.
Kapal tidak ada yang merapat. Akhirnya ia memutuskan pulang.
Ketika hendak pulang itulah ia melihat kayu mengapung. Daripada pulang dengan tangan kosong ia ambil kayu itu, siapa tahu berguna untuk kayu bakar.
Sesampai di rumah kayu itu ia belah untuk dijadikan kayu bakar. Ketika dibelah, ditemukanlah 1000 dinar dan catatan dari si A diseberang.
Si A yang terus berusaha mencari kapal penyebrangan akhirnya menemukannya. Dan berhasil menyebrang ke rumah si B.
Sesampainya di rumah B, si A menyodorkan 1000 dinar, dengan mengatakan : “Demi Allah, saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan kapal penyeberangan guna membayar hutang, dan saya tidak menemukannya kecuali hari ini.
Kata si B. “Tidakkah kamu telah mengirimkannya kepadaku?
Kata A: “ Bukankan telah saya katakan bahwa saya tidak mendapatkan kapal penyebrangan.
Kata si B:”Sesungguhnya Allah telah menyampaikan kepadaku apa yang engkau letakkan di dalam kayu bakar. (Ibn Katsir, 1: 447)

b. Abdullah bin Amir
Abdullah bin Amir berkata, ”Suatu hari ibuku memanggilku sedangkan Rasulullah sedang duduk di rumah kami, maka ibuku berkata, ’Hai, kemari, akan kuberi kamu’ Maka Rasulullah berkata kepada ibuku, ’Apakah engkau mau memberinya?’ Ibuku menjawab, ’Aku mau memberinya kurma’ Berkata Rasulullah, ’Apabila engkau tidak memberinya sesuatu sungguh akan ditulis sebagai kebohongan.” (HR. Baihaqi dalam Syu’banul Iman)
Pelajaran dari kisah ini: Jika kita melakukan itu kepada anak-anak sedangkan yang sebenarnya tidak ingin memberinya, maka berarti
- mengarjakan kebohongan
- mengajarkan untuk tidak menepati janji
- mendorong untuk tidak tsiqoh

c. Abdullah bin Abil Hasma
Aku berjual-beli dengan Nabi SAW sebelum bi’tsah, aku menyisakan kembalian pada beliau, lalu aku berjanji akan membawanya di suatu tempat, tapi aku lupa. Aku ingat setelah tiga hari kemudian, lalu aku mendatangi tempat itu dan aku dapati beliau ada di tempat itu. Beliau berkata, ”Sungguh engkau telah menyusahkanku. Aku di sini sejak tiga hari menunggumu (HR. Abu Daud)

d. Jabir bin Abdillah
Jabir bin Abdillah berkata, ”Ketika meninggalnya Rasullah SAW dan datang kepada Abu Bakar harta benda dari Hadhrami, maka berkata Abu Bakar, ’Siapa yang memiliki piutang kepada Nabi SAW atau pernah dijanjikan sesuatu oleh beliua, datanglah kepada kami’ Maka Jabir berkata, ’Aku pernah dijanjikan Nabi akan diberi ini, ini, ini” sambil membentangkan tangannya tiga kali. Jabi berkata, ’Maka Abu Bakar memberikan 500’. Abu Bakar berkata, ’Ambil lagi yang sebanyak itu!’ (HR. Bukhori-Muslim)

e. Ibnu Juhaifah dan Abu Bakar
Abi Juhaifah pernah dijanjikan oleh Rasulullah SAW akan diberi 13 qulush (onta betina muda) lalu aku mendatanginya, tapi beliau wafat hingga aku tidak diberi apapun. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, beliau berkata, ’Siapa yang memiliki janji dengan Rasulullah Saw, datanglah kepadaku.’ Maka aku berdiri dan memberitahukannya lalu beliau memerintahkan untuk memberi kepada kami.” (HR. Tirmidzi)
4. Kewajiban tepat janji dan ancaman bagi yang tidak menepatinya

a. Tidak menepati janji adalah salah satu ciri kemunafikan. Rasulullah bersabda : “Ada empat hal jika ada pada seseorang maka jadilah ia munafik tulen, dan jika ada sebagainnya maka ia memiliki ciri-ciri kemunafukan, hingga ia bisa meninggalkannya. 1). Jika dipercaya ia berkhianat, 2). Jika berbicara ia berdusta, 3). Jika berjanji mengingkari, 4). Jika berdebat ia curang.” Muttafaq alaih

b. Menjadi musuh Allah di hari kiamat. Sabda Nabi : Allah berfirman ”Ada tiga orang yang menjadi musuhku di hari kiamat:1). Orang yang menjanjikan pemberian lalu mengingkari, 2). Orang yang menjual orang merdeka lalu ia makan hasilnya, 3). Orang yang mempekerjakan seseorang dan telah memenuhi permintaannya lalu tidak dibayrakan upahnya.” HR. Al Bukhariy.

c. Salah satu bentuk kezaliman. Sabda Nabi : “Orang kaya yang menunda-nunda pembayaran hutang adalah perbuatan zalim….”Muttafaq alaih

Nilai kesetiaan yang paling tinggi adalah kesetiaan dalam memperjuangkan agama Allah. Dalam keadaan sedih atau gembira ia tetap setia dalam barisan pejuang. Kondisi enak ataupun tidak enak dia tetap setia. Sehingga Allah membedakan ganjaran orang berjuang dijalan Allah dengan ganjaran orang yang beribadah mahdhoh. Sangat jauh sekali. Lebih banyak ganjarannya orang yang berjuang dijalan Allah. Allahu a’lam




0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More